Surveilans Leptospirosis di Kota Pekanbaru

Beberapa penyebab masih adanya KLB penyakit Leptospirosis di Indonesia adalah sebagian besar pasien Leptospirosis datang ke rumah sakit dalam keadaan terlambat, masih rendahnya sensitivitas kemampuan petugas kesehatan dasar dalam mendiagnosis Leptospirosis, terbatasnya fasilitas pemeriksaan laboratorium, kurangnya surveilans tikus serta managemen dan pelaporan yang belum baik. Penyakit ini dapat menyebar ke wilayah lain akibat air banjir terkontaminasi dengan urin tikus yang mengandung bakteri Leptospira. Leptospirosis juga  dipengaruhi oleh faktor-faktor risiko yaitu lingkungan yang terkontaminasi Leptospira biasa pada daerah dengan lingkungan kumuh dan kurangnya fasilitas pembuangan sampah, maraknya habitat tikus ditempat pemukiman, daerah persawahan dan lahan bergambut serta air tergenang yang tercemar urin tikus yang mengandung bakteri Leptospira.

Sebagai upaya Balai Labkesmas Batam dalam memutuskan penularan penyakit Leptospirosis dengan melakukan kegiatan surveilans penyakit zoonosa (Leptospirosis) yang terintegrasi dengan deteksi leptospirosis pada tikus. Pengumpulan data adalah dengan screening pada pasien dan masyarakat di wilayah terduga daerah kasus dan melaksanakan penangkapan tikus. Terhadap specimen darah pasien dan masyarakat serta tikus yang tertangkap akan dilakukan identifikasi species dan pembedahan untuk isolasi bakteri pathogen dan juga pemeriksaan serologis (PCR) di laboratorium.

Kegiatan dilaksanakan di wilayahkerja Puskesmas Tenayan Raya yang merupakan wilayah Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru.Kegiatan dilakukan pada tanggal 10 sp 14 Juni 2024 dengan melibatkan BKK Pekanbaru,Dinkes Provinsi Riau, Dinkes Kota Pekanbaru, Labkesda Provinsi,Labkesda Kota PKU, Puskemas Tenayan Raya.