KEGIATAN BALAI LABKESMAS BATAM DALAM MENDUKUNG PROGRAM PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS PADA TRIWULAN I 2024

Tuberkulosis (TBC) saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat baik di Indonesia maupun internasional sehingga menjadi salah satu tujuan pembangunan kesehatan berkelanjutan (SDGs). Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri pathogen Mycobacterium tuberculosis, penularan terjadi melalui percikan droplet penderita aktif TB pada saat batuk atau bersin. Bakteri penyebab tuberculosis biasanya menyerang organ paru, namun dapat juga menyerang selain paru (ekstra paru). Hampir seperempat penduduk dunia terinfeksi dengan kuman Mycobacterium tuberculosis. Sekitar 89% TBC diderita oleh orang dewasa (56,5% laki-laki dan 32,5% perempuan) dan 11% diderita oleh anak-anak.

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi dan penyebab utama kematian sehingga menjadi masalah kesehatan yang besar di Dunia dan menjadi penyebab kematian tertinggi setelah HIV/AIDS, dan merupakan salah satu dari 20 penyebab utama kematian di seluruh dunia. Sebagian besar estimasi kematian yang disebabkan TBC tercatat di empat negara, yaitu India, Indonesia, Myanmar, dan Filipina. Jumlah kematian akibat TBC (di antara pasien HIV negatif) secara global pada tahun 2021 sebesar 1,4 juta, hal ini mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2020 yaitu sebesar 1,3 juta. Indonesia menduduki peringkat ke-2 penderita TBC tertinggi di dunia setelah India dengan proporsi kasus baru sebesar 13% dibandingkan seluruh kasus di dunia.

Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Batam sebagai salah satu UPT Dirjen Kesmas yang dimaksud pada Permenkes 25 tahun 2023, merupakan Labkesmas Tingkat 4 yang berada di Wilayah Regional 2 dan memiliki wilayah yakni Riau, Kepulauan Riau dan Sumatera Barat. Diantara kegiatan yang sudah dilakukan oleh Balai Labkesmas Batam pada triwulan I 2024 dalam mendukung penanggulangan TBC di Indonesia adalah melalui pelaksanaan pemeriksaan laboratorium laboratorium kesehatan serta pelaksanaan surveilans kesehatan.

  1. Diagnosis Berbasis Molekuler

Diagnosis TB yang dilaksanakan di Balai Labkesmas Batam menggunakan Tes cepat Molekuler (TCM) Xpert MTB/RIF Ultra. Tes cepat Molekuler (TCM) Xpert MTB/RIF Ultra berfungsi untuk mendeteksi keberadaan dari kompleks DNA bakteri Mycobacterium tuberculosis (MTB) dan resistansi bakteri tersebut terhadappengobatan Rifampisin dengan metode Real-Time Polymerase Chain Reaction (PCR). Pemeriksaan TCM Xpert MTB/RIF Ultra lebih sensitif dari Xpert MTB/RIF (12 cfu/mL vs 131 cfu/mL) dan waktu pengujian lebih cepat (<80 menit vs 110 menit) dibandingkan dengan Xpert MTB/RIF. PCR tube pada kartrid Xpert MTB/RIF Ultra memiliki ukuran volume yang lebih besar yaitu 50 μL yang memungkinkan proses PCR berjalan secara optimal. Persiapan spesimen untuk pemeriksaan TCM dengan Xpert MTB/RIF Ultra sama dengan Xpert MTB/RIF. Ada dua kegiatan yang dilakukan Balai Labkesmas Batam berbasis molelkuler dengan alat Xpert MTB/RIF Ultra :

        1. Rujukan diagnosis TBC berbasis molekuler menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM) yang berasal dari beberapa Puskesmas di Kota Batam, Kepulauan Riau. Adapun faskes yang mengirim sampel diagnosis TCM TBC adalah Puskesmas (PKM) Sei Lekop, PKM Sei Langkai, PKM Bulang, PKM Tanjung Uncang dan PKM Baloi Permai, RS Santa Elisabeth Sei Lekop, Klinik Asyifa Sagulung dan Klinik Hidayah Medical Centre.
        2. Kegiatan Surveilens Penemuan TB Tempat Khusus di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Adapun lokasi dan spesimen diambil di Lapas Kabupaten Bengkalis, pengujian dilakukan sebanyak 50 spesimen dengan hasil 49 negatif dan 1 positif (sensiitif rifampisin)
  1. Rujukan Pemeriksaan Uji Silang Mikroskopis TBC

Pemeriksaan mikroskopis TBC memiliki sensitivitas yang rendah, tidak mampu dalam menentukan kepekaan obat, dan memiliki kualitas yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh tingkat keterampilan teknisi dalam melakukan pemeriksaan. Akan tetapi, pemeriksaan mikroskopis masih digunakan di Indonesia yang merupakan negara endemis TBC. Sampai saat ini, peran pemeriksaan mikroskopis belum tergantikan terutama dalam pemantauan pengobatan TBC atau follow up. Pemeriksaan pemantauan pengobatan dilakukan oleh fasilitas kesehatan dan kemudian dilakukan crosscheck/ uji silang oleh Laboratorium Rujukan Mikroskopis. Balai Labkesmas Batam merupakan Laboratorium Rujukan Intermedete (LRI) sekaligus Laboratorium Rujukan Provinsi (LRP) Kepulauan Riau melakukan uji silang mikroskopis TBC terhadap Kabupaten/ Kota yang ada di Kepulauan Riau. Pada Triwulan I tahun 2024, sampel mikroskopis TBC yang diuji berasal dari Kota Batam, Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun dan Kabupaten Lingga
dengan total sampel keseluruhan sebanyak 519 sampel.(anita)