Kegiatan Surveilans Faktor Risiko Lingkungan Pada Makminja  Anak Sekolah Di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2023

Latar Belakang  

Makanan merupakan kebutuhan mendasar bagi hidup manusia. Makanan yang dikonsumsi beragam jenis dengan berbagai cara pengolahannya (Santoso, 1999). Makanan tersebut sangat mungkin menjadi penyebab terjadinya gangguan dalam tubuh kita sehingga kita jatuh sakit. Salah satu cara untuk memelihara kesehatan adalah dengan mengkonsumsi makanan yang aman, yaitu dengan memastikan bahwa makanan tersebut dalam keadaan bersih dan terhindar dari wholesomeness (keadaan yang tidak sehat). Banyak sekali hal yang dapat menyebabkan suatu makanan menjadi tidak aman. Salah satu diantaranya dikarenakan terkontaminasi (Thaheer, 2005). Kontaminasi yang terjadi pada  makanan dan minuman dapat menyebabkan makanan dan minuman tersebut dapat menjadi media bagi suatu penyakit. Penyakit yang ditimbulkan oleh makanan yang terkontaminasi disebut penyakit bawaan makanan (food-borned diseases) (Susanna, 2003). Penyakit bawaan makanan merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang paling banyak dan paling membebani yang pernah dijumpai di zaman modern ini.

Berbagai pilihan makanan dan minuman tersedia di berbagai tempat dengan kualitas yang bervariasi. Dapat dipastikan, dimana ada aktivitas manusia, pada tempat tersebut ditemukan penjual makanan.

Terdapat beragam jenis makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Kelompok makanan seperti tampak pada gambar di bawah merupakan makanan yang telah diolah atau yang disebut makanan olahan. Dahulu, ketika teknologi pangan belum berkembang seperti saat ini, tidak banyak makanan dan minuman olahan yang beredar. Sebagai contoh, dahulu orang membuat roti cukup dengan menggunakan bahana dasar terigu, ragi, dan air. Akan tetapi, sekarang tidak cukup hanya dengan bahan utama itu saja, masih perlu tambahan bahan lainnya, misalnya perasa atau flavor (bahan untuk menimbulkan aroma dan rasa tertentu) dan bahan pewarna. Jadi, ketika makanan olahan diproses ke dalam makanan tersebut telah ditambahkan zat-zat kimia dengan tujuan tertentu. Zat-zat kimia yang ditambahkan ke dalam makanan untuk meningkatkan kualitasnya yang mencakup rasa, penampilan, warna, keawetan dan lain-lain disebut zat aditif makanan atau bahan tambahan pangan.

Higiene sanitasi makanan adalah pengendalian terhadap faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya. Higiene sanitasi pedagang adalah dimana suatu keadaan yang mengharuskan pedagang dalam keadaan sehat dan bersih dari pencemar yang mungkin dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.

Makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum seperti di lingkungan sekolah, pasar, terminal dan lain-lain selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel.

Penyakit yang timbulkan karena makanan akan mengganggu saluran pencernaan makanan, dengan rasa mual di perut, diare dan kadang – kadang disertai  muntah –  muntah . Penyakit ini terjadi karena memakan makanan yang mengandung bakteri patogen atau kuman yang menghasilkan bahan toxic (beracun) pada saat pertumbuhan di dalam makanan tersebut, virus, parasit, cacing, zat kimia dan bahan pencemar alami. Namun yang paling banyak menimbulkan masalah adalah bakteri patogen.

Pencemaran E.coli kepada makanan dan minuman bersumber dari feses atau kotoran binatang atau manusia.  Sebenarnya jumlah spesies E.coli banyak tapi sebagian besar tidak berbahaya. Sebagian lagi dari bakteri E.coli bersifat patogen yang dapat menyebabkan penyakit. Gejala penyakit akut dapat terjadi setelah bakteri masuk melalui makanan dan minuman yang tercemar dalam 24 jam setelah tertelan. Gejala awal berupa nyeri / kram perut, diare berair yang sering disertai darah, juga bisa disertai mual dan muntah. Gejala yang lain yang kadang – kadang terjadi adalah demam dan sakit kepala. Beberapa kasus yang disebabkan oleh strain E.coli  yang virulen / ganas bisa menyebabkan penyakit yang berbahaya seperti infeksi  saluran kemih, anemia berat, gagal ginjal yang bisa menyebabkan kematian.

Untuk makanan jajanan termasuk minuman yang diperjualbelikan di lingkungan sekolah dibutuhkan pemantauan dan pengawasan yang baik untuk menjaga kesehatan anak didik dari bahaya penyakit. Atas dasar ini, BTKLPP Kelas I Batam melakukan Kegiatan Faktor Risiko Lingkungan Pada Makminja Anak Sekolah di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau.

Pelaksanaan kegiatan Surveilans Faktor Risiko Lingkungan Pada Makminja  Anak Sekolah Di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau ini mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku antara lain:

  1. Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan;
  2. Undang – Undang No. 32/2009 tentang pengendalian dan pengelolaan lingkungan hidup;
  3. Undang-undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
  4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 33 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan;
  5. Peraturan Pemerintah No. 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan;
  6. Peraturan Menteri  Kesehatan Rl Nomor 78 Tahun 2020 tentang   Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit;
  7. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 876 / Menkes /SK/ VIII / 2001 tentang  Pedoman   Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan; dan
  8. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 942/Menkes/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan.

Kegiatan yang dilaksanakan

Pada pelaksanaan kegiatan Surveilans Faktor Risiko Lingkungan Pada Makminja Anak Sekolah Di Kabupaten Natuna  Provinsi Kepulauan Riau ini dilaksanakan pada tanggal  2 s/d 5 Oktober 2023 dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Natuna dan pihak Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyah serta Menengah Pertama di Ranai Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau yang  pemilihan sekolah  menjadi responden kegiatan tersebut, yakni:

  1. SD Negeri 001 Ranai, Kecamatan BunguranTimur
  2. MI Darul Ulum Ranai, Kecamatan Bunguran Timur
  3. SMP Negeri 001 Ranai, Kecamatan Bunguran Timur.

Beberapa kegiatan yang dilaksanakan pada saat kegiatan Surveilans Faktor Risiko Lingkungan Pada Makminja Anak Sekolah Di Kabupaten Natuna, ini antara lain:

  1. Pengarahan dan penyuluhan tentang tata cara cuci tangan yang benar, penyakit diare yang disebabkan coli dan bahan tambahan pangan bersama dengan Dinas Kesehatan dan Puskesmas;
  2. Pengambilan sampel makanan untuk  pemeriksaan mikrobiologi dan pemeriksaan kimia; dan

Kuesioner terhadap 150 siswa di sekolah SD, MI dan SMP di Kabupaten Natuna  Provinsi Kepulauan Riau  terhadap pengetahuan dan perilaku siswa sekolah dasar sekolah dan  menengah pertama  mengenai higiene dan sanitasi dengan kejadian diare serta bahan tambahan pangan pada makanan minuman jajanan.

Masalah

Makanan jajanan termasuk minuman yang diperjualbelikan di lingkungan sekolah dibutuhkan pemantauan dan pengawasan yang baik, berkesinambungan untuk menjaga kesehatan anak didik dari bahaya penyakit diare dan keracunan pangan.

Simpulan

Melalui pelaksanaan Surveilans Faktor Risiko Lingkungan Pada Makminja  Anak Sekolah Di Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Higiene perorangan pedagang/penjamah makanan minuman jajanan dengan melakukan pengamatan pada penjamah makanan dikantin dan pedagang keliling disekitar sekolah, pedagang/penjamah makanan terbiasa berbicara didepan makanan dan sebagian belum menggunakan masker penutup mulut, masih ada yang berkuku panjang, penjamah makanan tidak menggunakan celemek saat berjualan dan penjamah makanan mencuci tangan pakai sabun saat menjamah makanan namun tidak rutin.
  2. Pemeriksaan sampel makanan baik mikrobiologi dan kimia di 3  sekolah ditemukan hasil pemeriksaan yaitu:
    • Positif bakteri Total Coliform pada sampel makanan jajanan nasi uduk, air kelapa, jelly merah dan jelly biru di kantin sekolah SD Negeri 001 Ranai Kecamatan Bunguran Timur.
    • MI Darul Ulum Ranai Kecamatan Bunguran Timur ditemukan hasil positif bakteri Total Coliform pada sampel makanan jajanan es lilin dan bihun goreng.
    • SMP Negeri 001 Ranai Kecamatan Bunguran Timur ditemukan hasil positif bakteri Total Coliform pada sampel makanan jajanan air kelapa.
    • SD Negeri 001 Ranai Kecamatan Bunguran Timur ditemukan hasil positif Tartrazine pada sampel ikan salai+sambel.
    • MI Darul Ulum Ranai Kecamatan Bunguran Timur ditemukan hasil positif Tartrazine pada sampel saos di kantin sekolah
    • SMP Negeri 001 Ranai Kecamatan Bunguran Timur ditemukan hasil positif Tartrazine pada sampel saos di kantin sekolah;
  1. Lingkungan sekolah sudah memiliki sarana sanitasi  seperti kamar mandi, jamban, tempat sampah dan tempat cuci tangan namun masih ada yang belum sanitair.
  2. Di kamar mandi belum menyediakan sabun untuk mencuci tangan setelah aktivitas di kamar mandi maupun keluar dari jamban.
  3. Tempat cuci tangan/wastafel sudah tersedia, namun air kran masih kurang lancar.
  4. Di tempat cuci tangan masih ada yang belum tersedianya sabun untuk cuci tangan ditempat cuci tangan/wastafel siswa agar selalu mencuci tangan setelah aktivitas di halaman sekolah.
  5. Pada umumnya siswa sudah mengerti pentingnya cuci tangan sebelum makan jajanan dan setelah beraktivitas walaupun lebih sering tidak menggunakan sabun karena lupa atau kebiasaan malas pakai sabun dan sabun sering berpindah tempat.
  6. Siswa sangat antusiasme dalam pengisian kuesioner dibarengi  sosialisasi mengenai higiene dan sanitasi makanan jajanan di lingkungan sekolah.
  7. Hasil analisis dalam bentuk grafik hubungan antara perilaku hygiene dan sanitasi dengan kejadian diare pada anak sekolah selama 3 hari terakhir; mengalami buang air besar cair/mencret lebih dari tiga kali dalam sehari sebanyak 24 responden (16%)

Saran & Rencana Tindak Lanjut

  1. Perlunya sosialisasi tentang higiene sanitasi tentang sanitasi makanan, dimana siswa di Sekolah Dasar bahwa Kualitas mikrobiologi makanan jajanan anak sekolah dapat ditentukan berdasarkan nilai MPN Coliform, nilai MPN Coliform fekal dan jumlah koloni Escherichia coli. Kontaminasi bakteri coliform dapat menyebabkan penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare dan gangguan pencernaan lain.
  2. Penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) harus sesuai dengan jenis pangan yang diproduksi dan tidak boleh melebihi batas maksimal penggunaan. Adapun BTP yang diizinkan penggunaannya untuk pangan dan batas maksimalnya terdapat dalam Peraturan BPOM No. 11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan
  3. Pemantauan rutin tentang higiene pedagang dan sanitasi makanan minuman jajanan anak sekolah oleh pihak sekolah
  4. Pedagang makanan jajanan/penjamah makanan dan anak sekolah harus selalu memperhatikan kebersihan perorangan (individu) sebelum mengolah, makan makanan minuman dan melakukan aktivitas lainnya dengan selalu mencuci tangan pakai sabun dengan air yang mengalir;
  5. Pihak sekolah diminta untuk melakukan pembinaan dan pengelolaan pedagang jajanan makanan di lingkungan sekolah dengan bekerjasama dengan puskesmas dalam pengawasan makanan minuman jajanan yang sehat;
  6. Bagi masyarakat diharapkan agar lebih waspada terhadap pemilihan makanan minuman jajanan anak sekolah yang aman dikonsumsi oleh anak dan sebisa mungkin membawakan bekal makanan yang sehat supaya terhindar dari membeli dan mengkonsumsi jajanan siap saji.

Kiranya menjadi bahan tindak lanjut bagi instansi terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Puskesmas dan Sekolah dalam melaksanakan pembinaan, pengawasan dan pemantauan terhadap anak didik dan pedagang dengan jajanan makanan yang diperjualbelikan dilingkungan sekolah dalam menjaga higiene, sanitasi dan kesehatan anak didik. Demikian pengawasan makanan jajanan disekolah agar pengawasan yang berkelanjutan, berkualitas baik dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. [Nurmasyitah]