SURVEILANS SENTINEL JAPANESE ENCEPHALITIS (S3JE) TAHUN 2023 BALAI LABKESMAS BATAM

PENDAHULUAN

Secara Nasional pada tahun 2014 dikembangkan Sistem Surveilans Sentinel Japanese Encephalitis untuk penemuan kasus diwilayah Indonesia dimana pada saat itu daerah sentinel yang dipiih 32 Rumah sakit di 10 Provinsi meliputi Bali, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur dan Maluku. Laboratorium pemeriksa specimen melibatkan seluruh BBTKLPP yang ada diIndonesia, PBTDK Litbangkes bertindak sebagai laboratorium pelaksana tes konfirmasi dengan quality control dari laboratorium regional SEAR di Banglore India.

Sejak tahun 2018 Balai Labkesmas Batam (eks BTKLPP Kelas I Batam) mengkoordinir kegiatan Surveilans Sentinel Japanese Encephalitis (S3JE) di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau. Lokasi sentinel yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Embung Fatimah yang berlokasi di Kecamatan Batu Aji Kota Batam. Kegiatan sentinel ini sempat terhenti selama pandemic Covid 19 yaitu di tahun 2020 dan 2021. Pengumpulan specimen pada tahun 2022 dan 2023 mulai kembali dilakukan.

TUJUAN

Tujuan Sistem Surveilans Sentinel Japanese Encephalitis (JE) adalah untuk mendapatkan informasi epidemiologi dan virology penyakit Japanesse encephalitis bagai dasar penentuan kebijakan dalam pengendalian penyakit

METODE PENELITIAN

Menentukan apakah pasien memenuhi defenisi kasus Acute Encephalitis Syndrome (AES)/ suspek JE. Populasi sampel adalah pasien  anak usia 0-16 tahun dengan demam/riwayat demam disertai penurunan kesadaran, kejang (tidak termasuk kejang demam sederhana)   

disertai gejala awal meningkatnya iritabilitas, samnolen (mengantuk)  dan/atau dapat disertai kelemahan otot/paralisis, tidak termasuk meningitis. Kriteria suspek sampel mengikuti Petunjuk Teknis Sistem Surveilans Sentinel Arbovirosis (S3A) yang dikeluarkan oleh Subdirektorat Arbovirosis Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik  Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2019. Pasien Acute Encepahlitis Syndrome  diambil specimen darahnya untuk diperiksa dengan pengujian ELISA di Laboratorium Virologi Balai Labkesmas Batam (eks BTKLPP Kelas I Batam). Formulir pasien dan specimen diterima di Laboratorium Virologi seminggu sekali. Data hasil wawancara direkap dan dianalisis secara deskriptif, sedangkan specimen disimpan pada suhu yang sesuai hingga specimen tsb dilakukan pengujian.

Pengujian sampel mengikuti alur yang sudah ditetapkan dalam standar Petunjuk Teknis Sistem Surveilans Sentinel Arbovirosis (S3A) yang dikeluarkan oleh Subdirektorat Arbovirosis Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik  Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2019.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Spesimen yang diterima dari RSUD Embung Fatimah Tahun 2023 sebanyak 12 spesimen kemudian dilakukan pemeriksaan ELISA (Enzim Linked Immunosorbent Assay) di Balai Labkesmas Batam (ex BTKLPP Kelas I Batam).

Grafik 1. Jumlah Spesimen Japanesse Encephalitis Tahun 2023 dan hasil pemeriksaan

Berdasarkan grafik 1 diatas dapat dilihat dari 12 sampel yang diterima BTKLPP Kelas I Batam untuk dilakukan pemeriksaan ELISA (Enzim Linked Immunosorbent Assay) keseluruhannya dengan hasil negatif Japanese Encephalitis

Grafik 2. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin

Berdasarkan grafik 2. diatas dapat dilihat besaran sampel berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 7 sampel (58%) dan perempuan 5 sampel (42%).

Grafik 3. Pengelompokan kasus/suspek berdasarkan umur

Berdasarkan grafik 3. diatas dapat dilihat jumlah sampel berasal dari pengelompokan umur 0-12 bulan (4 sampel) dengan persentese 33%, dari kelompok umur 1-5 tahun (3 sampel) dengan persentase 25 %, dari kelompok umur 6-12 Tahun (2 sampel) dengan persentase 17 % dan dari kelompok umur 13 tahun keatas (3 sampel) dengan persentase 25 %.

Grafik 4. Riwayat imunisasi JE

Berdasarkan grafik 4. diatas dapat dilihat 12 kasus/suspek Japanese Encephalitis yang diambil sampel untuk pemeriksaan ELISA ( Enzim Linked Immunosorbent Assay) Japanese Encephalitis belum mendapatkan vaksin Japanese Encephalitis.

KESIMPULAN

  • Dari 12 sampel kasus/suspek Japanese Encephalitis yang dilakukan pemeriksaan ELISA (Enzim Linked Immunosorbent Assay) diperoleh hasil negative Japanese Encephalitis berdasarkan SHU Nomor : TL.02.02/3/2755/2023 dan SHU Nomor : TL.02.02/3/3506/2023 BTKLPP Kelas I Batam.
  • Besaran sampel berdasarkan jenis kelamin laki-laki sebanyak 7 sampel (58%) dan perempuan 5 sampel (42%).
  • Berdasarkan kelompok umur diperoleh pengelompokan umur 0-12 bulan (4 sampel) dengan persentese 33%, dari kelompok umur 1-5 tahun (3 sampel) dengan persentase 25 %, dari kelompok umur 6-12 Tahun (2 sampel) dengan persentase 17 % dan dari kelompok umur 13 tahun keatas (3 sampel) dengan persentase 25 %.
  • Riwayat imunisasi 12 kasus/suspek Japanese Encephalitis yang diambil sampel untuk pemeriksaan ELISA ( Enzim Linked Immunosorbent  Assay)  belum mendapatkan vaksin Japanes Encephalitis.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Petunjuk Teknis Sistem Surveilans Sentinel Arbovirosis (S3A) yang dikeluarkan oleh Subdirektorat Arbovirosis Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik  Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 201.(poppy)