MIKROFILARIA RATE KABUPATEN BATANG HARI PROVINSI JAMBI TAHUN 2022

Dampak yang ditimbulkan akibat penyakit Filariasi adalah merusak sistem limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, glandula mammae, dan scrotum, menimbulkan cacat seumur hidup serta stigma sosial bagi penderita dan keluarganya. Program Eliminasi Filariasis menjadi prioritas nasional dengan agenda utama melaksanakan kegiatan Pemberian Obat Pencegahan secara Massal untuk memutus rantai penularan Filariasis. Dalam upaya mencapai eliminasi, dirancang Kegiatan Surveilans Penularan Filariasis / Transmissions Assessment Survey (TAS) Filariasis untuk menilai apakah kabupaten/kota sebagai unit evaluasi (EU) telah berhasil menurunkan prevalensi infeksi ke tingkat tidak lagi terjadi penularan baru. Sebelum mencapai tahapan eliminasi, maka satu unit evaluasi harus lulus 3 kali TAS dengan jangka waktu dua tahun diantara setiap survey. TAS 1 ditujukan untuk menghentikan intervensi POPM, sedangkan TAS 2 dan TAS 3 ditujukan untuk menilai tingkat infeksi saat intervensi POPM sudah dihentikan.

Sebagai salah satu wilayah endemis Fialriasis, Kabupaten Batang Hari telah lulus dalam TAS 1 pada tahun 2018, namun karena pandemi COVID-19 dan tidak tersedianya alat tes Brugia Rapid, maka pelaksanaan TAS 2 belum dapat terealisasi. Dalam rangka penemuan kasus baru secata aktif maka dilakukan surveilans Filariasis dalam rangka deteksi dini risiko penularan. Maksud Kegiatan ini adalah untuk menemukan penderita baru penyakit filariasis. Adapun tujuan kegiatan adalah untuk Mengetahui mikrofilaria rate (Mf Rate) di Kab. Batang Hari Provinsi Jambi.
Survei dilaksanakan di dua desa yaitu Kelurahan Jembatan Mas Kecamatan Pemayung dan Desa Simpang Sungai Rengas Kecamatan Maro Sebo Ulu yang dicurigai berisiko masih terjadinya penularan Filariasis pada tanggal 28 November sd 3 Desember 2022.

Survei dilakukan pada pukul 22.00 sd 02.00 dini hari, dikarenakan sifat mikrofilaria yang nokturna sehingga hanya dapat dideteksi pada malam hari. Pengumpulan data dilakukan di Sekolah dasar dan Kantor Kepala Desa setempat dengan mengumpulkan warga yang akan diambil darahnya, namun jika sampel tidak mencukupi maka dilakukan pengambilan sampel secara door to door atau dari rumah ke rumah. Sampel yang diambil adalah sampel darah jari lalu dibuat sediaan darah tebal untuk kemudian diwarnai dan dibaca dengan menggunakan mikroskopis.Hasil pemeriksaan mikroskopis terhadap 628 sampel yang diambil ditemukan 2 responden positif mikrofilaria. Responden tersebut berasal dari Kel. Jembatan Mas, sehingga Mf rate Kel. Jembatan Mas sebesar 0.64%.

Tindakan yang perlu dilakukan adalah diperlukan pengobatan selektif pada kasus positif mikrofilaria dengan dosis DEC 3 x 1 tablet 100 mg selama 12 hari berturut-turut untuk orang dewasa, Lakukan KIE pada masyarakat tentang penyakit filariasis dan Lakukan surveilans penyakit filariasis secara rutin di daerah-daerah lain yang dicurigai rawan penularan filariasis guna penemuan kasus baru sedini mungkin.