Supervisi Laboratorium Mikroskopis Tuberkulosis (Tb) Di Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau

Karimun – Indonesia masih berada di peringkat tiga dalam kasus tuberkulosis (TB) terbanyak di dunia, setelah India dan China. Meski turun satu peringkat, Indonesia masih memiliki tiga kendala (triple burden) dalam insiden TB yaitu insiden TB, insiden TB Resisten Obat (RO) dan insiden TB HIV. Pemerintah Indoensia telah berupaya dalam mengeliminasi kasus TB.


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 67 tahun 2016 mengenai penanggulangan tuberkulosis, salah satu mekanisme pembinaan dan pengawasan penanggulangan TB dengan melakukan supervisi, monitoring dan evaluasi. Supervisi merupakan suatu aktivitas pengawasan untuk memastikan bahwa suatu proses dilakukan dengan tepat. Sementara monitoring dan evaluasi (monev) merupakan salah satu fungsi manajemen untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program kerja.


Mengacu kepada visi pedoman nasional penanggulangan Tuberkolusis yakni masyarakat yang mandiri dalam hidup sehat untuk menurunkan angka pesakitan dan kematian karena tuberkolusis (TB), Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Batam telah ditunjuk oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau dan Sub. Dit. TB Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan sebagai Laboratorium Cross Check. Salah satu perannya melaksanakan supervisi teknis ke wilayah kerja dalam hal ini kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Riau.


Pada 31 Maret 2022 tim BTKLPP Batam terdiri dari dua orang telah melaksanakan supervisi berkerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau dan Dinas Kesehatan Kabupaten Karimun. Lokasi supervisi adalah Puskemas Tanjung Balai Karimun dan Puskesmas Tebing. Kegiatan yang dilakukan berupa wawancara singkat kepada petugas laboratorium TB untuk dilakukan penilaian terhadap sumber daya manusia, fasilitas dan peralatan laboratorium serta bahan habis pakai yang digunakan.


Hasil kegiatan diketahui bahwa laboratorium Puskesmas Tebing belum memiliki fasilitas ruang terpisah dalam pemeriksaan mikroskopis TB dengan preparasi spesimennya, selain itu perlu menambahkan exhauster dan pencahayaan yang baik dengan adanya penyekatan sementara untuk pembagian ruang administrasi dengan kegiatan laboratorium. Kedua laboratorium belum memiliki SPO Penerimaan, Pemilihan dan Penyediaan reagen atau alat kesehatan laboratorium namun secara rutin kegiatan tersebut telah dilakukan. Kemampuan petugas analis perlu ditingkatkan melalui peningkatan dan pengembangan pelatihan SDM laboratorium dalam pembuatan dan pembacaan sediaan mikroskopis TB. Penilaian ini didasarkan dari kualitas sediaan mikroskopis TB yang telah dibuat yang tidak sesuai standar baik secara pola maupun hasil pewarnaan. Beberapa rekomendasi telah disampaikan kepada pihak terkait guna perbaikan ke depannya.